Muhammadiyah Miliki Tanggungjawab dalam Mensosialisasikan Persatuan Kalender Internasional

YOGYAKARTA — Berbekal sumber daya intelektual, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih mempunyai tugas untuk mengemban amanah dalam mensosialisasikan penyatuan kalender internasional dan melakukan pembaharuan pemikiran Islam melalui epistimologi yang dimilikinya.

Sosialisasi kedua topik bahasan tersebut memerlukan perjuangan yang tidak mudah, seperti yang disampaikan Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Serial Kajian Konsolidasi Hisab Muhammadiyah yang diselengarakan oleh Majelis Tarjih pada Sabtu (13/7) di Kantor PP Muhammadiyah, JL. Cik Ditiro, No 23, Yogyakarta.

“Ini menjadi dambaan yang harus diperjuangkan dan tentu tidak boleh menyerah. Ketika dulu satu abad yang lalu Kiyai Dahlan betapa susah untuk menyakinkan masyarakat terkait arah kiblat yang benar berdasar dengan ilmu falak yang dikuasai atau juga berdasar dengan syariat, tapi lama kelamaan orang terbiasa dengan itu,” ungkap Haedar.

Muhammadiyah memiliki tanggung jawab dalam mensosialisasikan persatuan kalender internasional, penyatuan tersebut ditujukan untuk mengurangi atau mencari jalan tengah perihal banyaknya perbedaan putusan tentang hitungan kalender global di internal umat Islam. Terlebih, ketika menentukan hari-hari besar umat Islam. Meski menjadi salah satu urgensi bagi umat Islam, namun tidak perlu dilakukan dengan terburu-buru. Perlu melalui proses dialog dan pemahaman yang mendalam, sehingga semakin memperkaya referensi serta membanyak kader yang meguasai.

“Kedepan, ini akan terus memiliki perbedaan. Maka  juga diperlukan bantuan teknologi sebagai penunjang kerja ke-Tarjihan. Seperti paeralatan yang dimiliki oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah,” tambahnya.

Melihat kecenderungan generasi milenial, Haedar juga berharap semakin diperbanyak laboratorium atau tempat penelitian tentang ilmu eksak. Sehingga sosialisasi bukan hanya diperankan oleh Majelis Tarjih, tapi juga menggandeng Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebagai kantung-kantung keilmuan di Muhammadiyah. Sosialisasi yang dilakukan diharapkan bisa memicu gelombang besar dan menjadi state of mind berkemajuan yang kemudian diadopsi generasi milenial.

“Gelombang ini harus diperbesar, karena ini sebagai state of mind dan perlu direproduksi sebagai sebagai gerakan untuk generasi milenial. Karena mereka nanti akan menjadi penentu atas kebijakan dan penganti pemimpin sekarang ini, sehingga kebijakan yang dibuat bisa kompatibel disituasi era modern,” urai Haedar.

Kalender Global yang disosialisaikan oleh Majelis Tarjih merupakan hasil dari kontruksi paradigma berfikir yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Maka, selain mensosialisasikan produk pemikiran, Muhammadiyah juga perlu untuk mensosialisasikan pendekatan keilmuan yang dimilikinya. Pendekatan tersebut meliputi tiga metode, yakni bayani, burhani dan irfani.

Haedar beralasan, membanguun alam pemikiran Islam merupakan bagian dari membangun peradaban Islam. Karena ilmu pengetahuan merupakan basic dalam membangun peradaban Islam. Pendekatan atau epistimologi yang dipakai oleh Muhammadiyah perlu dijadikan sebagai suatu gerakan yang tersetruktur, sistematis dan masif. Muhammadiyah sendiri dalam khazanah pemikiran Islam memiliki modal besar dalam sumber daya intelektual, karena organisasi Islam lain masih jarang yang memakai bayani, burhani dan irfani sebagai alat pendekatan. Pendekatan komprehensif yang dimiliki Muhammadiyah sebagai solusi atas kterpurukan dunia Islam.

“Dunia Islam sedang mengalami proses yang memprihatinkan, karena terjebak dalam gejolak sosial politik pasca Arab Spring sehinga berpengaruh kepada usaha membangun peradaban Islam. Jika tidak memiliki dasar pemikiran yang komprehensif, akhirnya dunia pemikiran Islam akan mengalami disrupsi yang luar biasa bukan hanya dalam sosial, politik ekonomi, tetapi justru dalam pemikiran,” jelas Haedar.

Muhammadiyah memiliki peluang dan harus pecaya diri dengan sumber daya intelektual yang cukup dan memiliki modal dalam rentang sejarah yang menyertainya.

“Jangan sampai Islam mengalami kekeringan. Serta menjadikan Muhammadiyah berubah menjadi neo-konservatifisme Islam, menjadi neo radikalisme Islam. Maka diperlukan pemahaman mendalam terkait tiga metode tersebut, karena pendekatan tersebut bukan hanya memunculkan kesalehan personal, tapi juga kesalehan sosial,” pungkas Haedar. (a’n)

 

Related Posts
Baru Dilantik, Mendikbud Beri Penghargaan Untuk Orang Tua Musa Hafidz Cilik
Baru beberapa hari dilantik menjadi Mendikbud, Prof Muhadjir Effendy memberikan penghargaan kepada orang tua Musa fafidz cilik asal Bangka Belitung. Musa merupakan bocah delapan tahun yang telah menghafalkan Al-Quran dan telah ...
READ MORE
LAZISMU KOTA BOGOR RUTINKAN BERBAGI
Jum'at, 19 Mei 2017 Lazismu Kota Bogor kembali berbagi kepada masyarakat yang dirasa kurang mampu. Kegiatan berbagi dalam bentuk makan dan minuman ini sudah dimulai sejak Jum'at, 5 Mei lalu. ...
READ MORE
Direktur NU Care-Lazisnu Ingin Muhammadiyah dan NU Sering Bersinergi
JAKARTA – Direktur NU Care-Lazisnu, Syamsul Huda mengatakan, kolaborasi program qurban yang dilaksanakan oleh Lazismu dan Lazisnu merupakan peristiwa yang langka. Sebab, kata dia, langkah ini akan mendorong Muhammadiyah dan ...
READ MORE
Bagi Muhammadiyah, Pelayanan Sosial Bukan Sekedar Tugas Rutin
JAKARTA -- Majelis Pelayanan Sosial (MPS) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Rapat Kerja Nasional dan Konsolidasi Panti Asuhan Muhammadiyah dan Aisyiyah di Ballroom Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih, Jakarta. Kegiatan ...
READ MORE
Haedar Nashir: Muhammadiyah Harus Melampaui Dunia Digital
Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah dibuka secara resmi oleh ketua umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, pada Kamis, 9 Ramadhan 1439 H/24 Mei 2018 M. Kegiatan yang diikuti oleh perwakilan dari seluruh ...
READ MORE
Ini Empat Langkah Memperkuat Ukhuwah Umat Islam Versi Yunahar Ilyas
Perbedaan-perbedaan di antara organisasi Islam di Indonesia bukan menjadi hambatan untuk bersatu dalam menyelesaikan tugas berdakwahnya. Karena, menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Yunahar Ilyas, perbedaan di antara organisasi ...
READ MORE
Puluhan SD di Kabupaten Bogor tanpa Guru Agama
BOGOR – Puluhan sekolah dasar yang ada di Kecamatan Rumpin, ternyata tidak memiliki guru khusus di bidang agama. Padahal pendidikan agama sangat diperlukan sejak siswa duduk di bangku sekolah. Tidak adanya ...
READ MORE
LAZISMU KOTA BOGOR ADAKAN PENGOBATAN GRATIS
Ahad, 26 Maret 2017, Lazismu Kota Bogor Adakan Pengobatan Gratis. Acara diadakan di kantor PD Muhammadiyah Kota Bogor (jl. merdeka no. 118) . Acara pengobatan gratis ini dimulai setelah pengajian rutin ...
READ MORE
PP Muhammadiyah dan PBNU Gelar Deklarasi Pengurangan Sampah Kantong Plastik
JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Dalam rangka  Hari Lingkungan Hidup se-Dunia. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melakukan Deklarasi Pengurangan Sampah Kantong Plastik di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ...
READ MORE
Al Qur’an Berikan Koridor yang Tepat Bagi Perkembangan Ilmu Sains
BANTUL - Al Qur’an menuntun kita untuk mengksplor alam semesta ini. Di dalam Al Qur’an terdapat Ayat-ayat Qauniyah yang menjelaskan fenomena alam semesta. Setidaknya ada 750 ayat yang secara tegas menguraikan hal-hal ...
READ MORE
Baru Dilantik, Mendikbud Beri Penghargaan Untuk Orang Tua
LAZISMU KOTA BOGOR RUTINKAN BERBAGI
Direktur NU Care-Lazisnu Ingin Muhammadiyah dan NU Sering
Bagi Muhammadiyah, Pelayanan Sosial Bukan Sekedar Tugas Rutin
Haedar Nashir: Muhammadiyah Harus Melampaui Dunia Digital
Ini Empat Langkah Memperkuat Ukhuwah Umat Islam Versi
Puluhan SD di Kabupaten Bogor tanpa Guru Agama
LAZISMU KOTA BOGOR ADAKAN PENGOBATAN GRATIS
PP Muhammadiyah dan PBNU Gelar Deklarasi Pengurangan Sampah
Al Qur’an Berikan Koridor yang Tepat Bagi Perkembangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *