pa FS

HAKIKAT INDERA

Kajian Ba’da Shubuh DKM Al I’tisham Budi Agung, Bogor

Penulis Risalah : Dr. H.M. Fauzi Sutopo, Al Fakir

(Sekretaris PDM Kota Bogor)

 

Narasumber: Ustadz Syukro Ma’mun

 

*Bismillaahirrahmaanirrahiim*

 

*Prolog*

 

Kami doakan semoga kita semua dalam keadaan sehat wal’afiat dalam lindungan Allah SWT dan senantiasa dikaruniai ilmu yang bermanfaat dengan karunia Indera yang Allah SWT berikan kepada kita semuanya. Aamiin yra.

 

*Kajian Subtansi Tafsir*

 

Dalam kesempatan pagi hari ini, mari kita bahas terkait tafsir QS An-Nahl/16: 78.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

وَا للّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصٰرَ وَا لْاَ فْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

 

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl/16: 78).

 

Menurut tafsir Ibnu Katsir atas QS 16: 78 menjelaskan bahwa surat 16: 78 sama maknanya dengan QS Al Mulk/67: 23 bahwa: Katakanlah, “Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bagi kamu”. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.

 

Dengan adanya kondisi manusia saat dilahirkan ke dunia yang tiada berdaya (sangat lemah) dan tidak tahu menahu (keadaan suci) … maka Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya bahwa setiap bayi yang lahir hendaklah di telinga kanannya *diperdengarkan* adzan dan di telinga kirinya iqamat. Hal demikian ini dimaksudkan agar bayi terlindungi dari godaan syetan.

 

Hal ini dari mereka (ulama) yang paham atas hadits riwayat Abu Daud, Turmudzi dan Al Hakim yg menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW membacakan adzan dan iqamah di telinga cucunya Hasan dan Husain tatkala keduanya dilahirkan;

 

Kalangan ulama ada yang berpendapat bahwa hadist tersebut Hasan (yi hadits yg sambung-menyambung sanadnya, diriwayatkan oleh perawi yg tidak mempunyai derajat kepercayaan yg sempurna) sehingga (menurut narasumber) bila ada seseorang yg hafal 1000 hadits namun saat dituliskan ada satu hadits yg salah karena kurang alif untuk menjelaskan bahwa itu harus dibaca panjang …

misalnya dalam huruf م ditulisnya tanpa alif setelah mim (م) yang seharusnya diberi alif sehingga tertulis ما … sebagaimana berikut:

 

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ

 

Namun ada pula ulama yang berpendapat hadits tersebut dha’if (yi hadits yang lemah, tidak memenuhi persyaratan Shahih dan Hasan) … disebabkan dalam sanadnya terdapat seorang yang bernama *Ashim bin Ubaidillah* yg menurut ahli hadits *dinilai dha’if* (lihat Kitab Subulussalam IV/80).

 

Selain itu ada hadits lain yang maksudnya sama, yang diriwayatkan oleh Ibnu Suni dari Hasan bin Ali ra yg menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

 

من و لد له مو لو د فا ذ ن فى اذنهاليمنى و ا قا م فى اذ نه اليسر ى لم تضر ه ام الصبيان.

 

artinya: “Barangsiapa dianugrahi anak, kemudian membacakan adzan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya, tidak akan terkena ganguan jin”.

Ternyata hadits inipun menurut ahli hadits dinilai dha’if karena dalam sanadnya terdapat seorang yg bernama *Marwan bin Salim Al Shifari* yg *dinilai dha’if**.

 

*catatan *penulis* bahwa *sebuah hadits dapat diyakini berasal dari Rasulullah SAW atau tidak, sebagian didasarkan pada nilai sanad yaitu sejumlah orang yg secara beranting meriwayatkan hadits tsb sehingga sampai kepada orang yg secara langsung mendengar atau melihat baik perkataan, perbuatan maupun persetujuan Nabi Muhammad SAW atas suatu tindakan*. Jika diantara orang yg menjadi rangkaian riwayat hadits tsb ternyata lemah ingatan, kurang baik dalam menjalankan ibadah, pernah berdusta maka hadits yg diriwayatkan melalui orang yang bersangkutan tidak dapat diterima sebagai alasan atau sandaran penetapan hukum atau sah/tidaknya suatu perbuatan menurut Islam … wallahu’alam bissawab.

 

Selanjutnya menurut Tafsir Ibnu Katsir … Maka dengan bantuan semua anggota tubuhnya dan kekuatan yang ada padanya ia dapat menjalankan amal ketaatan kepada Tuhannya, seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari melalui sebuah hadis dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda:

 

“يَقُولُ تَعَالَى: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ بَارَزَنِي بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ. وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أحبَّه، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأعطيته، وَلَئِنْ دَعَانِي لَأُجِيبَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَ بِي لَأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ فِي شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي فِي قَبْضِ نَفْسِ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ، وَلَا بُدَّ لَهُ مِنْهُ”

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (hadist qudsi/firman Allah yg tidak dicantumkan dalam Al Qur’an):

“Barang siapa yang memusuhi kekasih-Ku, berarti dia menantang perang dengan-Ku. Dan tiadalah hamba­Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai selain dari mengerjakan apa yang telah Aku fardukan (wajibkan) baginya. Hamba-Ku terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan mengerjakan amalan-amalan sunat hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku selalu bersama *pendengaran* yang dipakainya untuk mendengar, selalu bersama *penglihatan* yang dipakainya untuk melihat, selalu ber­sama *tangan* yang dipakainya untuk berbuat, dan selalu bersama *kaki* yang dipakainya untuk melangkah. Dan sesungguhnya jika dia meminta kepada-Ku, Aku benar-benar akan memberinya. Dan sesungguhnya jika dia berdoa kepada-Ku, Aku benar-benar akan memperkenankannya. Dan sesungguhnya jika dia meminta perlindungan kepada-Ku. Aku benar-benar akan melindunginya. Dan tidaklah Aku ragu-ragu terhadap sesuatu yang akan Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku dalam mencabut nyawa hamba­Ku yang mukmin. Dia tidak suka mati dan Aku tidak suka menyakitinya, tetapi maut merupakan suatu keharusan baginya.”

 

Makna hadis di atas menunjukkan bahwa *seorang hamba apabila ikhlas dalam ketaatannya terhadap Allah; maka semua perbuatannya hanyalah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala*; Untuk itu tiadalah dia *mendengar* kecuali karena Allah, tiadalah dia *melihat* kecuali karena Allah, yakni apa yang diperintahkan oleh Allah untuknya. Dan tiadalah dia *berbuat dan tiadalah dia *melangkah* melainkan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seraya meminta pertolongan kepada Allah dalam mengerjakan kesemuanya itu.

 

Dalam riwayat lain yang berada di dalam kitab selain kitab sahih sesudah kalimat “dan selalu bersama kaki yang dipakainya untuk melangkah” disebutkan hal berikut:

 

“فَبِي يَسْمَعُ، وَبِي يُبْصِرُ، وَبِي يَبْطِشُ، وَبِي يَمْشِي”

 

Maka *”beserta Akulah dia mendengar, beserta Akulah dia melihat, dan beserta Akulah dia melangkah (berjalan)”*.

 

Itulah kontektualisasi ayat dalam Qur’an ditafsir dengan ayat lainnya yang saling.melengkapi yi QS Al Anfal/16: 78 dengan Al Mulk/67: 23.

Wajar bahwa hakikat pendengaran merupakan indera yang utama karena:

a. Saat manusia lahir di telinganya didengarkan adzan dan iqamah;

 

b. Saat manusia masih bisa mendengar (tapi buta/tidak bisa melihat) Rasul memerintahkan wajib sholat (dengan bantuan tongkat);

 

c. Saat manusia hendak meninggal *”ditalkin”* di telinga (kanan) nya dengan kalimat *لااله الا الله … Laailaaha illallaah* (HR Muslim).

 

*Hakikat Inderawi: Manusia Berakal*

 

Kita tahu bahwa dalam penciptaan manusia bahwa manusia dilengkapi indera Pendengar via telinga, indera Melihat via mata, indera penciuman bau, rasa manis dll via hidung dan lidah, indera yang diraba via tangan dan kaki, serta yang diutamakan adalah indera hati (rasa keikhlasan dstnya) dan indera akal (senantiasa berpikir). Semua makhluk ciptaan Allah SWT memiliki indera kecuali akal yang hanya diberikan kepada manusia … makanya pada hakikatnya *manusia itu berakal* dan nilai manusia senantiasa dilebihkan sebagaimana dalam QS Al Baqarah/2: 197 sebagai *ullil albab* yaitu:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

” ….. ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِ نَّ خَيْرَ الزَّا دِ التَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوْنِ *يٰۤاُ ولِى الْاَ لْبَا*”

 

” ….. Segala yang baik yang kamu

kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai *akal sehat (ullil albab* dengan ilmu)!” Lihat dalam QS. Al-Baqarah/2: 197 di atas dan Al Mujadillah/58: 11 berikut ini.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِ ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis (ilmu),” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang *beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat*. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Mujadilah/58: 11).

 

Bahwa bagi mereka yang beriman lagi *bertaqwa hendaknya menggunakan akal sehatnya* sehingga manusia hakekatnya sebagai _khalifatul fiil ardl_ menjadi sesuatu yang bernilai, berkeadaban dan berkemajuan sehingga mampu menciptakan apa saja termasuk pesawat terbang, (mobil, bangunan bertingkat, jembatan, jalan dll) yang telah Allah SWT contohkan dalam QS Al Mulk 19 dan An Nahl: 79 sbb.

 

Dalam hal ini … Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hamba-hamba-Nya agar melihat burung yang telah ditundukkan berada di antara langit dan bumi.

 

Bagaimana Allah menjadikannya dapat terbang dengan *kedua sayapnya* (pesawat meniru ini … ada sayapnya) di antara langit dan bumi, mengudara di angkasa. Tiada yang menahannya di udara kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dengan kekuasaan-Nya Dia membekali burung-burung itu dengan kekuatan yang dapat membuatnya berbuat demikian, dan Allah menundukkan udara untuk dapat membawanya terbang di udara. Hal ini diungkapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui firman-Nya:

 

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلا الرَّحْمَنُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ

 

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu (QS Al-Mulk: 19) …

Dan dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:

 

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

 

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang *beriman (lagi berilmu pengetahuan)*. (QS An-Nahl: 79). Maka manusia yang diberikan bermacam indera terutama Akal sehatnya untuk berfikir benar dan pada akhirnya mampu menciptakan pesawat terbang sebagaimana halnya “meniru burung terbang dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi”.

 

*Penutup*

 

Marilah kita sebagai manusia yang diciptakan Allah SWT sebagai _khalifatul fiil ardl_ mampu menjadi manusia yg bermanfaat bagi sesama manusia lainnya ( _khairunnas anfa’uhum linnas_ ) terlebih bila menggunakan akal sehat (ilmu pengetahuan dan teknologi atau Iptek) yang sangat membedakan manusia dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT lainnya.

Terlebih lagi bila manusia punya prinsip “bahwa iman terbagi dua: separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur” (HR Al Baihaqi) dan “Iman paling afdol (tinggi) ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah SWT selalu menyertaimu dimanapun kamu berada” (HR ath-Thobari) … sebagaimana juga terdapat dalam QS Al Hadid/57 : 4.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

” ….. ۗ *وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ* ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ”

 

“….. *Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada*. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Hadid/57: 4).

Maha Benar Allah dengan Segala FirmanNya.

 

Demikian Risalah Kajian Tafsir An Nahl/16: 78 … semoga bermanfaat … bahwa yang benar datang dari Allah SWT dan yang salah dari hambaNya … untuk itu bila ada kekurangan mohon maaf.

Terimakasih … Jazakumullah khairan katsira.

Fastabiqul Khairat. Boleh Dishare.

 

Nasrun minnallah wa fathun qariib.

 

Wassalamu’alaikum wrwb

Bogor, 29 Jumadil Ula 1444/23 Desember 2022.

 

*REFERENSI*

 

Abdullah (bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh), *Tafsir Ibnu Katsir* (Terjemah dari _Lubaabut Tafsiir min Ibni Katsiir_, Penerjemah Abdul Ghaffar termasuk dalam _softcopy_). Penebar Sunnah / “Pustaka Imam Asy-Syafi’i”. Bogor 16001.

 

Anonim. Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com

 

Al Math, Muhammad Faiz, 1991. *1100 Hadits Terpilih*: Sinar Ajaran Muhammad SAW. Gema Insani Press. Jakarta.

 

Bakar, Rohadi Abu (Alih Bahasa), 1986. *Terjemah Asbabun Nuzul: Sebab-sebab Turun Ayat-ayat Al Qur’an*

(Karya Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthi). Wicaksana – Berkah Illahi. Semarang.

 

Mulkan, Abdul Munir, 1992. *PAK AR MENJAWAB … DAN 274 Permasalahan dalam Islam*. Sipress. Yogyakarta.

 

Usman, K.H.M. Ali; Dahlan, H.A.A.; Dahlan, Prof. Dr. H.M.D., 2016. *HADITS QUDSI*: Firman Allah yang Tidak Dicantumkan dalam Al Qur’an, *Pola Pembinaan Akhlak Muslim*. Cetakan XXII. Diponegoro. Bandung. 

Related Posts
Syafaat Rasulullah SAW pada Umatnya
oleh : Drs. Madropi, M.Pd. (Wk. Ketua PDM Kota Bogor)   Betapa besar rasa cinta dan kasih sayang rasulullah Muhammad SAW pada umatnya, beliau adalah nabi dan rasul penyelamat umat manusia dimuka ...
READ MORE
PERAN GURU DALAM PERADABAN MANUSIA
Oleh : Teddy Khumaedi *) Baru saja masyarakat Indonesia merayakan Hari Guru Nasional (HGN) yang diperingati setiap tanggal 25 November, rakyat Indonesia merayakan hari guru nasional sebagai penghargaan terhadap sosok guru ...
READ MORE
Harapan Nabi Ibrahim As, Harapan Kita Semua
Khutbah Idul Adha 1439 H Lapangan Cilebut Kab. Bogor Harapan Nabi Ibrahim As, Harapan Kita Semua Oleh : Zahid Mubarok  (Dosen STIDKI Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Bogor)   اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ ...
READ MORE
KEARIFAN BUDAYA LOKAL CIREBONAN, TRADISI TARI SINTREN: BIDADARI DALAM KURUNGAN, “MODEL PEMBUKAAN MUSYWIL MUHAMMADIYAH JAWA BARAT”
KEARIFAN BUDAYA LOKAL CIREBONAN, TRADISI TARI SINTREN: BIDADARI DALAM KURUNGAN, "MODEL PEMBUKAAN MUSYWIL MUHAMMADIYAH JAWA BARAT" By Dr. H.M. Fauzi Sutopo, Al Fakir (Sekretaris PDM Kota Bogor) Terlebih dengan tidak mengurangi rasa hormat ...
READ MORE
REFLEKSI AKHIR TAHUN 2022
oleh: Drs. Madropi, M. Pd Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bogor Tidak terasa bergantinya waktu dari detik kemenit, ke-jam, ke-hari, ke-minggu, ke-bulan, sampailah kita pada tahun 2023 dengan usia ke sekian tahun. Banyak ...
READ MORE
KRITERIA CERDAS DALAM PANDANGAN ISLAM
KRITERIA CERDAS DALAM PANDANGAN ISLAM Drs. Madropi, M.Pd Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bogor Banyak orang mengatakankan orang cerdas adalah orang yang memiliki IQ genius, IPK kecerdasan diatas rata-rata, sanggup menghafal kosa kata dan ...
READ MORE
Wasiat Rasulullah SAW Kepada Umatnya Di Akhir Zaman
oleh :Drs. Madropi. M,Pd Pada saat Rasulullah SAW hendak wafat beliau senantiasa berpesan, umatii umatii artinya umatku umatku, begitulah kecintaan Rasulullah pada umatnya melebihi kecintaan terhadap yang lainnya selain Allah SWT. Mengapa ...
READ MORE
Sejarah ICMI: Gerakan Dakwah Bil Hal Suatu Cita-cita Mumpuni
Oleh:  M. Fauzi Sutopo (Penasehat ICMI Orwilsus Bogor, Sekum PD Muhammadiyah Kota Bogor) Pengantar Pada awalnya ICMI didirikan oleh para mahasiswa di UB Malang pada tahun 1990-an bukanlah "sebuah gerakan yang pro ...
READ MORE
Terjadinya Musibah Bencana Alam
Oleh: Drs Madropi, M Pd./Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bogor Banyak orang yang tidak menyadari akan datangnya bahaya bencana alam, padahal bencana datang acapkali tidak diduga kapan saja terjadi dengan tidak ...
READ MORE
Nasehat Lukmanul Hakim pada Anaknya tentang Kehidupan Dunia
Nasehat Lukmanul Hakim pada anaknya tentang kehidupan dunia   يابني ان الدنيا بحر أميق Wahai Anak ku sesungguhnya dunia laksana lautan yang dalam. Lautan kehidupan dunia yang penuh dengan onak dan duri. قد غرق ...
READ MORE
Syafaat Rasulullah SAW pada Umatnya
PERAN GURU DALAM PERADABAN MANUSIA
Harapan Nabi Ibrahim As, Harapan Kita Semua
KEARIFAN BUDAYA LOKAL CIREBONAN, TRADISI TARI SINTREN: BIDADARI
REFLEKSI AKHIR TAHUN 2022
KRITERIA CERDAS DALAM PANDANGAN ISLAM
Wasiat Rasulullah SAW Kepada Umatnya Di Akhir Zaman
Sejarah ICMI: Gerakan Dakwah Bil Hal Suatu Cita-cita
Terjadinya Musibah Bencana Alam
Nasehat Lukmanul Hakim pada Anaknya tentang Kehidupan Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *