KEARIFAN BUDAYA LOKAL CIREBONAN, TRADISI TARI SINTREN: BIDADARI DALAM KURUNGAN, “MODEL PEMBUKAAN MUSYWIL MUHAMMADIYAH JAWA BARAT”
KEARIFAN BUDAYA LOKAL CIREBONAN, TRADISI TARI SINTREN: BIDADARI DALAM KURUNGAN, “MODEL PEMBUKAAN MUSYWIL MUHAMMADIYAH JAWA BARAT”
By Dr. H.M. Fauzi Sutopo, Al Fakir
(Sekretaris PDM Kota Bogor)
Terlebih dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Panitia Lokal maupun Panitia Penyelenggara (OC) Musywil yang mengangkat Kearifan Lokal khas Crebonan seperti Tari Topeng dengan seragam serba merah dengan muka bertopeng adalah khas Crebonan yang ditampilkan oleh sekitar 250 pelajar lingkup Perguruan Muhammadiyah se Kabupaten Cirebon bahwa Persyarikatan tampak menyatu bagaimana mengangkat budaya lokal bagi generasi anak-anak agar budaya tari topeng tetap lestari sebagai sebuah/bagian gerakan budaya nusantara yang bekerjasama antara UMC dengan beberapa sanggar penari yg saling berkolaborasi dengan menyertakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cirebon, termasuk pula Tari Saman Aceh sebagai kebhinekaan tunggal ika.
Hanya sayang dalam tradisi yang sangat konvensional bahkan “kolot/tradisional” dengan mengangkat kearifan lokal tampak di awal acara penghantar sebelum pembukaan (pukul 08.10 – 08.55 WIB) ada sebuah acara membuat kami penonton dibuat terkejut (kaget) dimana menghadirkan tari dengan penyayi sinden yang disebut sebagai Tradisi Tari Sintren yang atraksinya dengan “Kurungan Bidadari”.
Para penyinden mengarahkan bagaimana seorang “bidadari yang tidak berjilbab” dalam kurungan dengan didampingi 3 orang (“lakon pawang”) yang menentukan bagaimana “bidadari” dilakon sedemikian rupa dengan irama (penyanyi) sinden sebagai nyanyian irama khas “penuh mistik” sambil diiringi tarian dua penari “berlenggang legok”.
Kesempatan pertama dibukalah kurungan … muncullah seorang putri berbaju hijau yang disebut “bidadari” … lalu secara kasat mata oleh salah satu dari 3 orang (pelakon laki² atau “pawang sintren”) diikat kedua tangan dan kakinya … lalu tiba-tiba “bidadari” tersebut diusap depan mukanya oleh lelaki lainnya langsung pingsan … terkulai dan “dirangkul” oleh lelaki lainnya lalu dimasukan kedalam kurungan (ayam) yang relatif besar … telah dihiasi sedemikian rupa beberapa menit kemudian setelah diiringi penyanyi sinden dan penarinya … kurungan dibuka lalu … apa yang terjadi … “bidadari” itu sadar dan dan pakai baju yg telah berubah warna menjadi serba merah … lalu bidadari dengan dipandu sinden bergeraklah tangannya secara sigap … “menarilah bidadari” berlenggang-lenggok … lalu tiba-tiba ada orang lain (seolah penonton) menghapirinya dengan kesan melempar sesuatu ke wajah bidadari … lalu bidadari pingsan lagi dan telah siap (“pawang”) “menampi” (setengah merangkul … apakah mahram atau bukan?) sepertinya tidak masalah (?) karena “pawang lainnya dengan sangat refleks” menyentakkan tangannya ke arah muka bidadari … seketika itu juga bidadari sadar lagi.
Peristiwa demikian terus berulang² sampai 5 kali dengan tidak sadar krn lemparan … tangkapan bidadari bahkan tampak setengah merangkul dari belakang bidadari dan “dikeplok lagi … “hidup lagi alias siuman” … dikeplok lagi oleh penonton lalu pingsan lalu “pawang tari” secepatnya merangkul bidadari kembali supaya tidak jatuh krn pingsan … lalu dikeplok lagi oleh pawang tari lainnya … siuman lagi … menari lagi … dstnya ….. terakhirnya pingsan.
Dalam kondisi pingsan bidadari ditutup lagi dengan kurungan … beberapa detik kemudian … kurungan dibuka dan “bidadari” kembali sadar dengan menggunakan baju hijau seperti penampilan awalnya … seolah-olah (bagi penonton yang awam) telah terjadi permainan hipnotis, menghadirkan jin yang cenderung ke syirik – paling tidak – tahayul dan churafat … penuh dengan mistik dan klenik … dibiarkan.
Tak lama kemudian pesinden berhenti dan acara selesai.
Lalu dalam peristiwa tari sinden tersebut muncullah teriakan-teriakan dari audiensi / penonton yg memadati lapangan Batubelah beberapa komen keluar … kok Muhammadiyah melestarikan “TBC” (tahayul, bid’ah dan churafat) … mengapa panitia kecolongan … mengapa panitia tidak menyortir acara yg “penuh mistis” … bisa jadi hipnotis bahkan bantuan jin sampai akhirnya sihir … mungkinkah acara “tbc” semacam “model tradisi tari sinden: bidadari dalam kurungan” yang menimbulkan multi interpretasi bisa diakomidir oleh panitia … ataukah tidak ada gladi resik untuk tari sinden dimaksud … untuk itu kami memohon agar ada penjelasan dari Panitia PWM dan/atau Panitia Lokal agar jangan ada kesan … kok Muhammadiyah bisa ya … mentolerir peristiwa yang makna mistiknya terasa muncul dan kental klenik di depan ribuan audiensi masyarakat muhammadiyah atau kasat mata audiens umumnya yang hadir di Lapangan Batubelah … bisa jadi “penuh kontroversi”.
Selain itu, atas adanya tradisi tari sintren … ada lagi Tari “Rampak Gendang” yang menampilkan mahasiswi STKIPM Kuningan yang juga tidak Islamis karena menggunakan baju yang transparan sehingga “nampak alias katon kelek” bahkan yang ekstrimnya adalah “nampak/katon leher” dari para penari gadis yang disebut sebagai “mahasiswi STKIP Muhammadiyah Kuningan” yang bisa jadi juga mengundang banyak kontroversial di kalangan Persyarikatan dan masyarakat umum?
Lalu mau kemanakah (quo-vadis?) Muhammadiyah dengan mentolerir kearifan lokal yang penuh mistik dan klenik (tahayul – churafat)? yang jelas-jelas kita basmi sejak KH Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan (1912) dengan istilah “basmi tbc” … kok Pembukaan Musywil Muhammadiyah Jawa Barat malah menghidupkannya ….. sesuatu yang sangat bertentangan dengan Idiologi Muhammadiyah.
Wallahu’alam bissawab.
Semoga bermanfaat; bila ada yang baik (kebajikan) dalam kerangka Al Imron/3: 104 khususnya nahyi mungkar … semua itu semata datang dari Allah SWT dan bila ada yang kurang datangnya dari penulis, untuk itu kami mohon maaf.
Semoga hanya sekali ini saja dan tidak terulangi lagi dalam hal-hal pertunjukan seni tradisi yang penuh mistik dan klenik dimaksud.
Khairrunnas anfa’uhum linnas.
Nasrun minallah wa fathun qariib.
Fastabiqul khairat.
Cirebon, 05 Syaban 1444/25 Februari 2023
Salam Sehat
🙏
