KEMULIAAN BULAN RAJAB
oleh : Drs. Madropi. M.Pd (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bogor)
Allah SWT menjadikan bulan seluruhnya 12 bulan, empat diantaranya bulan haram yaitu bulan Dzulqaidah, Dzulhijah, Muharam dan Rajab. Keempat bulan ini disucikan dan dimuliakan Allah dengan tidak boleh melakukan pembunuhan dan peperangan pada bulan-bulan tersebut.
Jika bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharam disebut bulan suci dan mulia karena kaitan dengan pelaksanaan ibadah haji, maka bulan Rajab suci dan mulia karena terdapat suatu peristiwa besar dan luar biasa yaitu pristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang terjadi pada tanggal 27 Rajab 10 tahun kenabian dan kerasulan Muhammad SAW.
Pada saat itu Rasulullah SAW berada dalam keadaan A’mul Hazjm artinya tahun berdukanya Rasulullah SAW. Beliau berduka karena:
- Umat Islam jumlahnya sedikit, sementara musuh-musuh Islam jumlahnya sangat banyak.
- Abu Thalib bin Abdul Muthalib pamannya nabi yang senantiasa melindungi Rasulullah dari serangan kaum Musyrikin telah wapat
- Hanya berselang beberapa bulan Siti Khadijah istri Baginda yang senantiasa mendampingi dalam keadaan suka dan duka itupun di panggil Allah SWT.
Dalam kondisi yang demikian itu, Allah hendak menghibur sekaligus menyampaikan perintahnya dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaranNya melalui Isra Mi’raj. Namun sebelumnya Rasulullah SAW di datangi malaikat Jibril membelah dadanya untuk mensucikan hatinya dengan air Zam-zam. Firman Allah Q.S. al-Isra ayat 1
سبحان اللذي أسرا بعبده ليلا من المسجد الحرام الي المسجد الاقصا الذي باركنا حوله لنريه من أياتنا انه هوالميع البصير
Artinya: Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang diberkahi disekitarnya, untuk memperlihatkan dari tanda kebesaran kami, Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat (Q.S. al-Isra 1)
Bila Allah berfirman dimulai dengan kata” سبحان ” Artinya: “Maha suci Allah”. Maka Allah hendak memperlihatkan tanda keagungan dan kebesarannya dengan cara Isra memperjalankan hambanya dimalam hari, diluar jangkauan nalar pikiran manusia. Perjalanan tersebut dilakukan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian Mi’raj naik ke langit ke 1 sampai langit ke 7, Sidratul Muntaha, Istawa dalam tempo yang sangat singkat untuk menerima perintahNya Shalat 5 waktu sehari semalam.
Banyak orang bertanya kenapa mesti dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha ? Salah satu hikmah diantaranya adalah: Upaya Napak tilas kenabian dan krasulan, karena Masjidil Haram berada di Makah dibangun tempat peribadatan pertama yang dibangun nabiyullah Ibrahim AS dengan sebutan maqomi Ibrohim. Sedangkan Masjidil Aqsha Baitul Makdis di Palestina tempat peribadatan yang dibangun nabiyullah Sulaiman AS yang sangat terkenal keilmuannya, mampu berbicara dengan seluruh binatang dan bisa menaklukan seluruh jin bahkan tidak satupun makhluk dimuka bumi yang bisa menandingi keilmuannya nabi Sulaiman AS. Lalu Allah memberkahi wilayah disekitarnya dengan kesuburan dan kemakmuran. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat.
Pelaksanaan Isra Mi’raj melahirkan perintah shalat 5 waktu dalam sehari semalam, dimana salah satu hikmah shalat dapat berkomunikasi langsung seorang hamba dengan Allah SWT sebagaimana digambarkan dalam hadits riwayat jama’ah
قال الله عزوجل: قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين ولعبدي ما سال
Allah Azza wazala berfirman: Shalat itu dibagi antara Ku dan hambaKu dua bagian. Untuk hambaKu apa yang ia pinta.
فاذا قال العبد” الحمد لله رب العالين” قال الله: حميد ني عبدي
Apabila seorang hamba membaca” Alhamdulillahi robbil a’lamin”. Artinya segala puji bagi Allah. Allah berfirman HambaKu telah memujiKu
فاذا قال ” الرحمان الرحيم ” قال الله: اثني علي عبدي
Dan apabila membaca” Arrahmaanirrhaim”. Artinya yang maha pengasih lagi maha penyayang, Allah berfirman: HambaKu telah mengagungkan Aku
فاذا قال: مالك يوم الدين” قال: مجد ني عبدي، وقال مرة: فوض الي عبدي
Dan apabila membaca” Malikiyaumiddin”. Artinya: Yang merajai dihari pembalasan. Allah berfirman: HambaKu telah mengagungkan Aku, dan suatu kali Allah berfirman: HambaKu telah menyerahkan kepadaKu
واذا قال” اياك نعبد واياك نستعين” قال: هذا بيني وبين عبدي: ولعبدي ما سال
Dan apabila ia membaca” Iyya kana’buduwa Iyya kanastai’n”. Artinya Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan. Allah berfirman ini antara ku dan hambaKu, dan untuk hambaKu akan Aku kabulkan doa’nya.
فاذا قال: اهدناالصراط المستقيم صراط اللذين أنعمت عليهم غيرالمغضوبعليهم ولاالضالين. قال هذا لعبدي, ولعبدي ما سال
Maka apabila membaca” Ihdinashirathal Mustaqim, Shirathalladzinaan’amta a’laihim Ghairil maghdhubi a’laihim waladhaaliin” Artinya Tunjukilah kami pada jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka. Bukan jalannya orang-orang yang sesat. Allah berfirman: Ini untuk hambaKu dan untuk hambaKu apa yang ia mohon. (Riwayat Jamaa’h kecuali Buchari dan Ibnu Majah)
Wallahu a’lam
