Empat Tanda Orang yang Tidak Rugi dalam Hidupnya
Oleh : Drs. Madropi, M.Pd. (Wk. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bogor)
Silih bergantinya waktu dari malam ke siang, bulan ke tahun, mengingatkan pada kita semua bahwa hidup tidak boleh kamalinaan, lalai dengan gemerlapnya kehidupan dunia, tidak boleh lalai dengan waktu, masa, dan jamam, tidak boleh lalai dengan kematian yang akan datang pada setiap orang.
Allah mengingatkan dalam Q.S. al-Asry
وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ
Artinya: Demi masa, Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,
Menurut mayoritas mufassirin dan Ibnu Katsir dalam kitabnya bahwa” ayat ini turun berkenaan dengan pristiwa Amr ibnul ’Ash menjadi delegasi rasulullah untuk menjumpai Musailamah Al-Kazzab yang mengaku nabi dan rasul. Amr menyampaikan bahwa telah diturunkan kepada Muhammad surat yang pendek, tetapi padat akan makna. Maka Musailamah bertanya, “Surat apakah itu?” kemudian Amr membacakannya
وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ
Artinya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-‘Asr: 1-3).
Musailamah mengatakan bahwa telah diturunkan pula kepadaku hal yang serupa untuk membuat tandingan surat Al-‘Ashr. Amr Ibnul As pun bertanya: ” surat Apakah itu?” Musailamah membacakan:
یَا وَبْر یَا وَبْر، إِنَّمَا أَنْتِ أُذُنَانِ وصَدْر، وَسَائِرُكِ حَفْزُ نَقْز
Artinya, “Hai kelinci, hai kelinci, sesungguhnya engkau hanyalah dua telinga dan dada, sedangkan anggota tubuhmu yang lain kecil mungil.” Kemudian Amr berkata “Demi Allah, sesungguhnya aku meyakini bahwa engkau benar-benar sebagai pendusta.”
Pristiwa turunnya ayat ini bukan hanya kerugian ditujukan pada musailamah al Kazab saja, melainkan pada seluruh umat manusia akan mengalami kerugian, terkecuali:
1. الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا Orang-orang yang beriman
Siapakah orang beriman itu ? Rasulullah SAW ditanya mailaikat Jibril, Ya Muhammad Khabarkan kepadaku tentang Iman, Rasulullah menjawab:
َالَ رَسُولُ اللهِ الْإِيْمَانُ أنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِهِ
Artinya: Rasulullah SAW bersabda, “Iman yaitu hendaknya engkau beriman kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan hendaknya engkau beriman kepada qadar (takdir Allah SWT) yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim) Keyakinan itu bukan hanya ucapan, tetapi diyakini dengan sepenuh hati, diucapkan dengan lisan dan dikerjakan oleh anggauta badan.
2. وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ Orang yang beramal shaleh
Amal shaleh adalah amal kebajikan yang dilakukan sesuai syariat Islam dengan niat ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Baik keshalihan pribadi/ individu, maupun keshalihan social yang dapat dirasakan orang banyak dan menghantarkan kita pada keselamatan diakherat kelak. Firman Allah Q.S. an-Nisa 124
وَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا
Artinya:Siapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, akan masuk ke dalam surga dan tidak dizalimi sedikit pun.
3. وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ Saling nashehat menasehati dalam kebenaran
الدين النصيحة قلنا : لمن ؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم
“Agama adalah nasehat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya” (HR. Muslim)
Manusia bukanlah malaikat yang senantiasa benar terus dan bukan pula Iblis yang senantiasa salah dan berdosa, namun diantara benar dan salah itulah sifat manusia. Karena itu diperlukan saling nasehat menasehati dalam kebenaran, agar tetap manusia berada pada jalan yang benar dan tetap berada dalam kebenaran
4. وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ Saling nasehat menasehati dalam kesabaran
Sudah menjadi sifat manusia apabila ditimpa kesulitan sering keluh kesah, apabila ditimpa musibah sering putusasa, karena itu manusia butuh saling menasehati dalam kesabaran. Sebagaimana lukmanul hakim telah menasehati anaknya. Firman Allah Q.S. Lukman 17
Sudah menjadi sifat manusia apabila ditimpa kesulitan sering keluh kesah, apabila ditimpa musibah sering putusasa, karena itu manusia butuh saling menasehati dalam kesabaran. Sebagaimana lukmanul hakim telah menasehati anaknya. Firman Allah Q.S. Lukman 17
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
Artinya: Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.
Mudah-mudahan kita semua tidak termasuk pada orang-orang yang mengalami kerugian, tetapi termasuk pada manusia yang memperoleh keberuntungan.
Amin ya Allah ya robbala’lamin
